SMK SMTI Pontianak menggelar diskusi strategis bersama Anggota DPR RI Komisi VII untuk membahas kondisi sarana, prasarana, serta kebutuhan pengembangan kompetensi peserta didik. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam upaya menyelaraskan fasilitas sekolah dengan standar industri yang terus berkembang.
Dalam paparannya, Brusmantio Adilaputro dari bidang Sarana dan Prasarana menyatakan bahwa meskipun kondisi alat praktik sudah mendekati standar industri, fasilitas penunjang di ruang kelas masih perlu ditingkatkan, terutama melalui peremajaan sistem pendingin ruangan (AC) demi menciptakan kenyamanan lingkungan belajar. Selain itu, sekolah menyoroti urgensi pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai sarana pendukung pembelajaran sekaligus pemenuhan aspek keselamatan dan lingkungan, serta perlunya perbaikan segera pada atap musala sekolah yang mengalami kebocoran agar kegiatan ibadah berlangsung nyaman dan aman.
Ni Luh Widayanti dari Program Keahlian Teknik Kimia Industri menyampaikan bahwa berbagai kendala efisiensi anggaran saat ini menghambat efektivitas proses belajar-mengajar. Kerusakan pada sejumlah peralatan praktik yang tidak lagi dapat diperbaiki menyebabkan keterbatasan jumlah alat, sehingga para siswa harus menggunakannya secara bergantian dan mengakibatkan durasi praktik menjadi lebih lama. Selain masalah peralatan, kondisi fisik juga menjadi perhatian karena pengelupasan pelapis epoxy pada lantai area kerja yang terakhir direvitalisasi tahun 2019 kini berisiko mengganggu aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Terkait hal tersebut, Ni Luh menegaskan bahwa kebutuhan penambahan alat praktik yang selaras dengan hasil sinkronisasi kurikulum masih terkendala oleh keterbatasan anggaran belanja modal, meskipun usulan revitalisasi dan perbaikan area kerja telah diajukan melalui BPSDMI sesuai arahan Direktif Presiden pada Februari lalu.

Sementara itu, Munchen dari Program Keahlian Teknik Otomasi Industri menegaskan bahwa lulusan dituntut memiliki kompetensi kuat di bidang Programmable Logic Controller (PLC). Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan dukungan peralatan yang memadai seperti PLC, HMI, Lab Komputer Pemodelan, SCADA, serta perangkat pendukung lainnya. Mengingat harga peralatan tersebut relatif tinggi, pihak sekolah berharap adanya dukungan anggaran untuk pengadaan secara bertahap.
Pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa dukungan anggaran untuk peningkatan dan revitalisasi sarana prasarana sangat diperlukan agar tetap selaras dengan perkembangan teknologi dan standar industri. Selain itu, pengadaan alat praktik yang representatif menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga kualitas pembelajaran berbasis praktik dan meningkatkan kompetensi lulusan, sekaligus memprioritaskan perbaikan fasilitas penunjang seperti ruang kelas, area praktik, dan pembangunan IPAL demi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan sesuai standar industri.





